Kenakalan Remaja

2.1 Pengertian Kenakalan Remaja

Kenakalan Remaja berasal dari kata Kenakalan dan Remaja yang mempunyai pengertian sebagai berikut:

Kenakalan adalah kelainan tingkah laku, perbuatan maupun tindakan yang bersifat asosial atau bahkan anti social yang melanggar norma social dan agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.

Pada umumnya usia remaja dapat dapat dikatagorikan sama dengan usia sekolah yang dapat dikelompokkan menjadi:

1. siswa yang masih ada di bangku sekolah, umur 6 sampai 18 tahun.

2. Mahasiswa/ perguruan tingi, umur 18 sampai 25 tahun.

3. Pemuda diliar lingkungan sekolah/ perguruan tinggi umur 15 sampai 30 tahun

Beberapa pengertian tentang Remaja adalah sebagai berikut:

1. Remaja adalah anak yang berumur dibawah 16 tahun (KUHP).

2. Remaja dapat digolongkan anak yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum kawin (UU No. 4 Tahun 1979).

3. Berdasarkan keputusan Mendepdigbud Nomor : 0323/V/1978, tanggal 28 Oktober 1978 tentang pola dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda sebagai berikut:

a. Secara Biologis Remaja adalah umur 12 sampai 15 tahun.

b. Secara Budaya Remaja : anak umur 13 sampai 21 tahun.

c. Angkatan Kerja/Tenaga muda : Remaja umur 18 sampai 22 tahun

d. Secara Ideologi dan Politik Pemuda: umur 18 sampai dengan 40 tahun.

Istilah kenakalan remaja sebagai terjemahan dari ”Juvenile Delequensy” yaitu suatu kelainan tingkah laku, perbuatan maupun tindakan remaja yang bersifat asosial atau bahkan anti sosial yang melanggar norma sosial dan agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.

Menurut pengertian tersebut suatu kenakalan remaja mengandung tiga unsur pokok yaitu:

1. Kelainan tingkah laku, perbuatan/tindakan yang bersifat asosial atau anti sosial, melanggar norma-norma agama yang berlaku dalam masyarakat.

2. tingkah laku perbuatan tindakanyang melanggar ketentuan hukum yang berlaku, apabila dilakukan oleh orang dewasa yang normal akan disebut sebagai kejahatan dan pelanggaran.

3. Tingkah laku, perbuatan/tindakan tersebut dilakukan oleh remaja, istilah Juvenile tidak dapat disamakan dengan anak-anak, karena istilah Juvenile masih terlalu umun dan mencakup semua orang yang masih muda umurnya atau team Ager (Anak Belasan Tahun) dan akan ebih tepat disebut remaja.

2.2 Bentuk Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja merupakan gejala sosial yang hakekatnya selalu terdapat disegala jaman dan tempat walaupun bentuk, cara dan tingkatannya berbeda-beda kini di Indonesia Kenakalan Remaja menurut bentuknya dapat digolongkan kedalam dua jenis yaitu:

1. Kenakalan Remaja yang tergoong dalam pelanggaran norma social/agama contohnya:

a. Suka menentang orang tua.

b. Suka keluyuran tanpa tujuan yang jelas.

c. Pakaian yang tidak sopan.

d. Membolos sekolah.

e. Membaca buku porno.

f. Bergaul dengan orang reputasinya jelek (germo, pencuri dan sebagainya).

g. Merokok, minum-miuman keras dan lain sebagainya.

h. Menjadi pelacur dan melacur diri.

i. Memasuki tempat-tempat yang berbahaya dan sebagainya.

Penyelesaian terhadap kenakalan tersebut adalah masih cukup diserahkan kepada orang tua dan gur maupun keluarga. Namun apabila ada permintaan dari pihak keluarga atau pengaduan orang lain baru diselesaikan pihak alat negara penegak hukum. Makaperbuatan tersebut dikalangan kepolisian masih menganggap Pra Delequent karena belum melanggar hukum, sedangkan bentuk kedua baru disebut Delequent karena sudah melanggar hukum.

2. Kenakalan/ tingkah laku Remaja yang sudah melanggar hukum antara lain:

a. Ngebutmengendarai kendaraan tanpa SIM.

b. Mencuri.

c. Menipu.

d. Memeras.

e. Menggugurkan kandungan.

f. Karena salahnya mengakibatkan matinya orang lain.

g. Kejahatan narkotika dan lain-lain.

2.3 Sebab-sebab Kenakalan Remaja

Sebab-sebab kenakalan remaja pada umumnya terdiri dari 2 faktor yaitu:

1. Faktor Intern yaitu sebab-sebab yang ditimbulkan dari pribadi remaja itu sendiri seperti:

a. Cacat keturunan yaitu bersifat biologis/psikologis.

b. Pembawaan negatif, sukar dikendalikan/ diatur.

c. Keinginan pemenuhan kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi.

d. Lemahnya penahan emosi/sikap menilai terhadap masalah sekitarnya.

e. Kurang mempunyai daya kemampuan dalam penyesuaian dengan lingkungannya yang baik sehingga pelarianya ke dalam kelompok-kelompok remaja nakal.

f. Tidak mempunyai hobi yang sehat sehingga canggung dalam tingkah laku dan kehidupan sehari-hari akibatnya mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif.

g. Kurang mendalami ajaran agama sehingga daya tahan mentalnya lemah dan lain-lainnya.

h. Masa perkembangan/transisi jiwanya masih mudah diombang-ambingkan oleh sesuatu hal yang bersifat negatif.

2. Faktor Ektern yaitu sebab-sebab yang berasal dari lingkungan remaja dimana ia tinggal/hidup.

a. rasa cinta dan kasih sayang atau perhatian yang kurang dari orang tua.

b. Kegagalan pendidikan dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

c. Pengawasan dan pembinaan yang kurang oleh orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah.

d. Kurang pengisian waktu yang senggang dengan kegiatan yang produktif dan bermanfaat.

e. Terbukanya kesempatan terhadap niat yang negatif terutama atas rujukan/ajakan kawan-kawannya.

f. Cara pendekatan oleh orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah yang dianggap masih kurang sesuai dengan jiwa perkembangan remaja.

Sebab-sebab kenakalan remaja yang berpijak dari atas faktor Intern dan Ekstern, terdapat 3 macam sebab yang dominan yaitu:

1. Mengikuti ajakan teman.

Faktor ini menunjukkan bahwa kelompok teman memang amat besar pengaruhnya terhadap tingkah laku remaja, karena anak remaja sekarang ini pada umumnya lebih mementingkan pendapat kelompok kawan daripada pendapat orang tuanya. Apa sebabnya? Mari kita adakan instropeksi diri sendiri untuk menjawab pertanyaan itu. Umumnya makin lama anak remaja makin melepaskan diridari orang tua sebagai persiapan yang wajar untuk berdiri sendiri. Dari situlah ia merasakan adanya perhatian didalam kelompok kawan-kawannya. Selain itu pada masa sekarang juga banyak timbul pertentangan degan pihak orangtua ataupun perhatian orang tua yang kurang terhadap anak. Akibatnya anak remaja banyak mendapat bantuan emosional/pendapat dari teman-temannya. Teman yang baik mengajak ia kearah perbuatan yang pototif dan produktif tetapi sebaliknya kawan yang kurang baik umumnya menyeret ia tanpa memikirkan masa depannya.

2. Usaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.

Keinginan anak remaja ini dapat berupa kebutuhan pribadi yang mendesak dan umumnya terpengaruh oleh teman. Keinginan itu dapat pula terwujud, keinginan untuk memiliki / membeli sesuatu barang yang menjadi idam-idamannya yang sebetulnya bukan merupakan pokok. Bila terdapat hambatan terhadap keinginan itu, kadang-kadang ia tidak dapat menahan diri atas keinginan tersebut, maka ia terpaksa harus melakukan tindakan nekad untuk mencapai apa yang dikehendaki.

3. Pelarian dari Kesedihan

Pelarian dari kesedihan untuk anak remaja guna sekedar mencari hiburan/kelegaan dan kepuasan perasaan. Hal ini disebabkan kurang kasih sayangnya pihak orang tua dan keadaan dalam rumah tangga yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh keadaan rumah tangga yang kurang menyenangkan bagi remaja adalah:

– Keadaan keluarga yang pecah (broken home).

– Ayah dan ibu sering tidak dirumah masing-masing selalu sibuk dengan tugasnya, sehingga tidak pernah ada waktu untuk membina anak-anaknya.

– Salah satu orang tua meninggal atau keduanya tidak ada lagi.

– Di dalam keluarga tak ada saling pengertian, selalu cekcok dan kurang memperhatikan kebutuhan anak-anaknya.

– Kurang memberikan contoh teladan yang baik terhadap putra-putrinya.

– Memanjakan anak yang berlebihan oleh orang tua.

– Orang tua dalam membagi rasa cinta kasih saying terhadap anak-anaknya kurang merata dan pilih kasih dan lain-lain.

2.4 Usaha Penanggulangannya

Telah banyak upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kenakalan remaja, baik yang dilaksanakan oleh keluarga, lingkungan pendidikan dan dilingkungan masyarakat, namun keberhasilannya belum memuaskan dan ternyata masih tetap terjadi kenakalan remaja.

Penanggulangan Kenaklan remaja perlu keterpaduan dalam pembinaannya antara keluarga, lembaga pendidikan. Masyarakat dan pemerintah.

2.4.1 Pencegahan

Mencegah anak jangansampai menjadi nakal/remaja yang nakal akan lebih baik dari pada menindak terhadap anaknya yang sudah terlanjur nakal. Tidak ada seorangpun yang menginginkan anaknya menjadi anak nakal, tetapi setiap manusia tentunya bercita-cita ingin hidup berbahagia dengan mendapat keturunan yang sehat, baik dan berguna bagi masyarakat, nusa Bangsa dan agama. Untuk zmenciptakan itu bukan bercita-cita saja tetapi semua harus diusahakan, yang paling pokok sekali adalah menciptakan keluarga yang harmonis dimana adanya saling pengertian antara suami dan istri.

Memang sudah tidak dapat disangkal lagi, bahwa perbedaan biologis, cara bertingkah laku, kesenangan dan lain-lain antara pria dan wanita itu berlainan, karena berbeda itulah keduanya harus saling menyesuaikan diri. Jadi pangkal tolak keluarga harus harmonis karena fungsi keluarga adalah:

1. Perlindungan dan rasa aman.

2. Pemenuhan kebutuhan rohaniah dan jasmaniah.

3. Tempat menanamkan norma.

4. Contohperbuatan, sikap dan tingkah laku yang baik menurut norma agama.

5. Melatih diri sebagi mahluk sosial.

Adapun cara mendidik/ membimbing anak agar tidak menjadi nakal antara lain:

a. Pergaulan orang tua dan anak

Situasi pergaulan antara orang tua/keluarga dengan anak, tidak sepenuhnya menjadi situasi pendidikan. Situasi pergaulan itu dapat berkembang menjadi situasi pendidikan, hanya bilamana orang tua/keluargadalam pergauan itu berusaha membantu atau membimbing anak kearah kedewasaan sesuai dengan tuntutan norma-norma yang ada dalam masyarakat didunia ini. Agar situasi pergaulan itu efektif untuk menciptakan situasi pendidikan diperlukan beberapa unsur antara lain:

1) Perasaan cinta dan kasih sayangantara orang tua kepada anak. Tanpa cinta dan kasih sayang dari keluarga/ orang tua pergaulan meruakan pergaulan biasa. Kasih sayang yang diwujudkan dalam tingkah laku si pendidik dapat menimbulkan ikatan dimana anak dengan perasaan senang menerima bantuan dan bimbingan.

2) Hati yang tulus iklas. Setiap manusia termasuk anak, sangat perasa atau sensitive terhadap rangsangan yang datang dari luar, baik rangsangan phisik maupun rangsangan sosial, oleh karena itu dalam memberi bantuan atau bimbingan tidak boleh secara paksa atau tidak wajar sehingga menimbulkan rasa tidak puas atau sikap menghindar, tetapi harus dengan hati yang tulus iklas.

3) Menimbulkan kewibawaan. Keluarga orang tua harus menimbulkan kepercayaan kepada anak bahwa sebagai orang tua mempunyai kelebihan dalam segala kedewasaan. Sehingga anak akan merasa terpanggil untuk berubah dan berkembang mencapai kedewasaan sebagaimana ditunjukkan oleh keluarga dalam segenap tingkah lakunya.

b. Beberapa cara mendidik

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang langsung diterima dari ayah dan ibu dalam lingkungan keluarga yang sehat, harmonis dan penuh kasih sayang satusama lain. Kebiasaan dan pendidikan dasar yang baik yang diletakkan/ ditanamkan dari sejak anak masih kecil, akan menjadi kekal yang sangat berguna dalam pembentukan dan pembangunan budi luhur. Dibawah ini akan ditemukan beberapa kesimpulan dari pendapat orang banyak tersebut.pendidikan harus melihat juga perkembangan dari pada anak tersebut.

2.4.2 Penindakan (Represif)

Pencegahan lebih baik dari pada penindakan, karena penindakan dilakukan apabila suda terjadi kenakalan remaja. Penindakan terhadap kenakalan remaja akan berbeda dengan kejahatan pelanggaran yang dilakukan oleh orang dewasa. Penyelesaian terhadap kenakalan remaja yang termasuk golongan pertama (tingkah laku) perbuatan asosial melanggar norma-norma agama/ sosial hakekatnya cukup diserahkan pada orang tuanya atau keluarganya. Namun apabila ada phak keluarga atau atas pengaduan pihak lain, atau atas permintaan masyarakat umum, kenakalan itu dapat diselesaikan oleh pihak negara penegak hukum. Sedang penyelsaian terhadap kenakalan remaja yang termasuk dalam golongan kedua (sudah melanggar norma hukum), menjadi wewenang alat negara penegak hukum dengan tindakan represif (penindakan) seperti penahanan, penyidikan, pengusutan, penuntutan dan keputusan pengadilan. Bagaimana peranan orang tua apabila menjumpai anaknya yang sudah nakal? Apakah nakal dalam golongan pertama, kalau masih bisa kita didik/ bina dengan baik bila tidak bisa kita serahkan pada lembaga Pemerintah/ Swasta yang bertugas membina anak-anak nakal. Tetapi apabila sudah melanggar hukum yang termasuk golongan kedua sebaiknya serahkan kepada polisi demi kebaikan anak tersebut, karena disamping membuat jera/ takut mengulangi perbuatannya lagi, pihak polri akan mempertimbangkan kelanjutan proses hukum tersebut demi masa depan anak. Misalnya dengan jalan menyerahkan pada panti Asuhan anak nakal atau mengajukan kedepan sidang pengadilan agar dibimbing di Lembaga Permasyarakatan anak-anak di Tangerang.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s